Pages

Subscribe:

Labels

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Juni 2014

Andai Bisa Kulumat

Oleh: Aisyah Humaida

Satu jam telah berlalu, hujan tak kunjung reda. Tubuhku menggigil kedinginan, terpaan air hujan membasahi baju yang kupakai. Atap pelataran toko, tempat kuberteduh tak mampu memberikan perlindungan yang cukup. Aku mulai lelah. Dimanakah aku bisa berlindung? Kemanakah aku harus berjalan? Aku hanya bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa tujuan. Tak sepeser uang-pun kugenggam, hanya buntalan kain berisi baju-baju sederhana yang kubawa. Perutku semakin membuncit, bayi yang kukandung semakin menua. Apa yang harus kulakukan, ketika bayi itu lahir. Apa yang harus kukatakan, ketika bayi yang kulahirkan menanyakan ayahnya. Ah...
*****
Tiga belas bulan yang lalu, kau datang dengan kesahajaan dan memperkenalkan diri dengan nama Muhammad Isa pada keluargaku di tanah Minahasa. Kau mampu menarik hati papahku, membuat papah memberikan segalanya kepadamu, termasuk aku. Pendekatan yang hebat untuk seorang pendatang yang mampu meluluhkan hati seorang kepala suku yang begitu keras. Hingga akhirnya, kau membawaku ke Jakarta, tempat asalmu. Saat itu, aku tengah hamil dua bulan dari hasil pernikahan denganmu. Aku merasa bahagia tiap kali kau menjanjikan banyak hal padaku.